Habanusa, Aceh Selatan — Tokoh Masyarakat Aceh Selatan, Sudirman alias Mamak Sudir, yang juga mantan Anggota DPRK Aceh Selatan periode 2009–2014, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersikap dewasa dan berlapang dada dalam menyikapi dinamika politik pasca-Pilkada. Menurutnya, kontestasi politik telah berakhir dan pemenang telah ditetapkan melalui mekanisme demokrasi yang sah dan konstitusional.
“Pilkada sudah selesai. Pemenangnya juga sudah ada. Tidak ada lagi alasan untuk terus membuka ruang konflik politik yang justru merugikan Aceh Selatan,” kata Mamak Sudir. Minggu( 11/1/2026).
Ia menilai, upaya menyeret kembali figur-figur tertentu ke dalam pusaran polemik pasca-Pilkada tidak lagi relevan. Dorongan untuk memaksakan kembali nama H. Mirwan MS maupun Batal Muqadis ke arena konflik dinilai sebagai langkah mundur dalam berdemokrasi dan berpotensi menghambat konsolidasi pembangunan daerah.
“Pilkada itu adu gagasan, adu konsep, dan adu visi-misi. Ketika konsep kita tidak mendapat mandat rakyat dan pasangan MANIS dinyatakan menang, maka sikap yang paling rasional adalah menerima hasil tersebut dengan lapang dada,” ujarnya.
Menurut Mamak Sudir—yang sebelumnya berhadapan langsung sebagai pesaing politik pasangan MANIS dalam Pilkada—seluruh pasangan calon pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan Aceh Selatan. Namun keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan rakyat. Oleh karena itu, setiap upaya yang mengganggu konsentrasi pemerintahan terpilih dalam menjalankan visi dan misi pembangunan merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap keputusan demokrasi yang sah.
Ia juga menegaskan bahwa pasangan MANIS merupakan figur baru dalam kepemimpinan Aceh Selatan dan perlu diberi ruang untuk bekerja.
“Kalau diibaratkan, pemerintahan baru ini seperti selembar kertas. Coretannya masih baru, tapi di atas kertas itu masih ada jejak-jejak lama dari masa lalu yang sampai hari ini masih membekas,” jelasnya.
Karena itu, ia menilai tidak adil jika seluruh persoalan yang muncul saat ini langsung dibebankan kepada pemerintahan baru tanpa melihat konteks dan warisan masalah sebelumnya. Proses pembenahan daerah, kata dia, membutuhkan waktu, konsistensi, serta dukungan semua pihak.
Lebih lanjut, Mamak Sudir mengingatkan bahwa seruan kedewasaan politik ini juga ditujukan kepada para elit politik, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, dan pengamat agar tidak membangun narasi yang berlebihan dan destruktif.
“Aceh Selatan tidak sedang runtuh, tidak hancur, dan tidak kehilangan arah seperti yang kerap digambarkan dalam framing opini yang provokatif,” tegasnya. Eks Pang Lima sagoe KPA menggamat ini.
Ia menilai, perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun ketika perbedaan itu dibingkai seolah-olah Aceh Selatan berada di ambang kehancuran, maka yang dirugikan bukan kelompok politik tertentu, melainkan citra daerah secara keseluruhan.
“Framing semacam ini bisa menurunkan kepercayaan publik, mengganggu stabilitas sosial, dan melemahkan kepercayaan investor maupun mitra pembangunan,” ujarnya.
Mamak Sudir menegaskan bahwa kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari kontrol demokrasi, namun harus disampaikan secara konstruktif, berbasis data, dan bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan.
“Kritik yang emosional dan sarat kepentingan hanya akan memperpanjang konflik dan menjauhkan Aceh Selatan dari semangat kemajuan,” katanya.
Ia juga berharap pasangan MANIS beserta seluruh tim pemenangan dapat fokus bekerja dan menjadikan dinamika Pilkada sebagai pembelajaran kedewasaan politik. Fokus utama ke depan, menurutnya, bukan lagi soal menang atau kalah, melainkan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat dan mempercepat pembangunan daerah.
“Aceh Selatan membutuhkan narasi persatuan, kolaborasi, dan optimisme. Bukan narasi saling menyalahkan. Kritik boleh keras, tapi niatnya harus lurus: demi Aceh Selatan yang lebih baik,” pungkasnya.







